Read more of Rohingya refugees in Aceh
December 03, 2015

Konseling dan Terapi yang Dilakukan pada Pengungsi Rohingya

Written by 

Konseling merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada seorang individu. Metode ini diberikan agar permasalahannya yang terjadi bisa terselesaikan oleh individu itu sendiri. Hal ini juga Children’s Media Centre (CMC) lakukan pada seorang wanita Rohingya yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat pemberantas kutu (selanjutnya disebut R). Kejadian yang dialami oleh R ini merupakan salah satu dari permasalah yang terjadi di dalam camp. Hal yang pertama kali kami lakukan adalah melakukan pendekatan kepada R tersebut sebagai upaya menenangkan kondisi psikologisnya. Selanjutnya upaya yang dilakukan adalah menggali motif atau dorongan yang menyebabkannya berfikir dan melakukan percobaan bunuh diri.

Proses pendekatan dilakukan adalah dengan  membangun kepercayaannya terlebih dahulu dengan relawan dan tidak menyentuh sisi permasalahan yang dialaminya. Relawan CMC yang terlibat langsung bukanlah orang yang baru dikenal olehnya. Oleh karena itu, tidak membutuhkan waktu yang lama dalam proses membangun kepercayaan dengannya. Rasa percaya tersebut memberikan efek perasaan nyaman sehingga ia dengan mudah bercerita terkait seluruh permasalahan yang dihadapinya hingga pada tindakan bunuh dirinya. Baik kehidupan R yang berada di camp, konflik lingkungan dan keluarga, dan ekonomi menjadi pemicu terjadinya percobaan bunuh diri. Setelah R menceritakan masalahnya, kami mencoba untuk mengarahkan R mengenali dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapinya serta melihat kondisi nyata yang dihadapinya saat ini. R juga diajak untuk dapat mengenali berbagai kemungkinan peluang-peluang yang dimilikinya saat ini sebagai rancangan untuk masa depannya dan kedua anaknya.

Selain kasus bunuh diri, kasus lainnya yang juga cukup menarik adalah terkait kelahiran bayi. Kasus ini berkaitan dengan kondisi psikologis ibu yang baru melahirkan. Ibu S merupakan wanita yang berusia sekitar 18 tahun, yang baru melahirkan anak pertamanya. Ibu S berstatus belum menikah. Berdasarkan beberapa informasi yang diperoleh diketahui bahwa ibu S terindikasi sebagai korban pemerkosaan yang terjadi di kapal saat perjalanan di lautan. 

Hal ini  yang diduga sebagai penyebab dari timbulnya beberapa perilaku ibu S pasca melahirkan. Ibu S menunjukan keenganannya untuk menyusui anaknya, terkadang ia bersikap tidak peduli dengan anaknya atau bahakan terkadang bersikap kebalikannya yaitu terlalu sayang dan tidak mengizinkan orang lain menyentuh anaknya. Selain itu, beberapa perilaku lainnya menunjukan bahwa ibu S tampak selalu murung dan tidak memiliki ketertarikan untuk berinteraksi dengan orang-orang sekelilingnya yang datang menjenguknya dan anaknya. Ia lebih sering tampak melamum dan memiliki tatapan mata kosong. Beberapa perilaku yang tampak ini menunjukan ada indikasi penolakan terhadap anaknya. Hal ini akan berdampak pada anak baik pertumbuhannya maupun perkembangannya. Oleh sebab itu, CMC melakukan pendekatan kepada ibu tersebut dengan memberikan perhatian atas setiap perkembangan bayi dan dirinya. Pada proses pendampingan dilakukannya proses assesment sebagai tahap awal dengan menggunakan behavior checklist of post partum behavior. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk dapat menganalisa situasi psikologis yang dialami oleh ibu S. Berdasarkan analisis assesment ibu S mengalami gangguan emosional postpartum blues/baby blues ringan. Oleh karena itu, relawan CMC mencoba selalu mendampingi pada setiap aspek yang dibutuhkan oleh ibu S sebagai upaya agar gangguan emosi yang dialami oleh ibu S tidak berkelanjutan.

Upaya pendampingan yang dilakukan dalam bentuk dukungan moril secara psikologis dan materil. Mendorongnya untuk memberikan asi kepada anaknya, mendampingi dalam melakukan aktifitas harian selama ibu S masih pada masa Nifas, dan selalu memberikan motivasi sehingga ia tidak merasa sendiri dan mampu menerima anaknya. Selain itu, dukungan material yang diberikan adalah berkaitan dengan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh ibu dan anaknya berupa susu formula sebagai tambahan makanan, pakaian, sarung dan kebutuhan lain. Proses ini dilakukan tidak hanya secara langsung oleh para relawan CMC namun juga dengan melibatkan pencari suaka lainnya untuk berpartisipasi dan merasa bertanggungjawab terhadap pencari suaka lainnya. Keterlibatannya juga pada level memotivasi ibu S agar mau menerima dan menyusui anaknya. Pendampingan yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu memberikan dampak positif, walaupun butuh waktu dan kesabaran agar subjek mau melakukan hal tersebut.

 

Terapi yang Dilakukan Pada Anak Rohingya

Konflik yang terjadi di Myanmmar dan perjalanan di kapal, baik secara langsung maupun tidak memberikan kontribusi terjadinya trauma pada anak-anak Rohingya. Ketika CMC pertama kali melakukan assesment di camp, ditemukan bahwa ada beberapa anak yang mengalami kecemasan meskipun sekitar 10% saja dari jumlah anak yang mengikuti assesment. Trauma yang dialami oleh anak disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa anak menunjukan adanya indikasi trauma yang disebabkan oleh manusia. Manusia yang dimaksud dapat berupa orang tua atau orang di lingkungan sekitarnya, para sosok religius tertentu maupun aparat keamanan.

Dampak trauma yang terjadi mengakibatkan anak tampak murung, sulit untuk beradaptasi dengan orang baru, emosional (sulit mengontrol emosi marah) sehingga tampak berperilaku agresif. Untuk mengantisipasi perilaku negatif ini berlanjut maka CMC melakukan terapi pada anak untuk mengurangi dampak psikologis yang dialami oleh anak. Bentuk terapi yang dilakukan pada anak Rohingya adalah dengan metode bermain (play therapy). Terapi bermain dilakukan dengan cara mengajak anak bermain dengan berbagai macam permainan yang berfungsi untuk mengurangi dampak trauma yang dialami oleh anak.

Bentuk permainan yang bisa dilakukan dengan anak, bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok. Permainan yang dilakukan, yaitu:

  • Menggambar dan Mewarnai. Permainan merupakan salah satu cara agar anak dapat meluapkan segala bentuk emosi yang dirasakan anak (emosional katarsis).
  • Mozaik. Permainan ini dapat mengambarkan bagaimana perkembangan emosi, sistem kognitif (dalam perencanaan dan implementasi), mengidentifikasi kemampuan leadership dari anak. selain itu, anak juga dapat belajar mengenal bentuk, warna, serta melatih motorik halusnya, melatih mengoptimalkan kemampuan koordinasi visual-motoriknya (penglihatan-perintah kepada motorik halus). Permainan mozaik yang dilakukan adalah dengan menggunakan potongan-potongan kertas, biji-bijian, dan media lain-lain.
  • Puzzle. Permainan diberikan dengan tujuan untuk melatih perkembangan kognitif dari anak sesuai dengan usianya dan kemampuan penyusunan kepingan dari puzzle.
  • Lego. Salah satu permainan yang melatih daya imaginasi dan kreatifitas, perencanaan serta implementasi pada anak. Pada proses bermain Lego anak-anak juga belajar bersoliasasi, berkomunikasi dan menyelesaikan masalah (problem solving) dengan teman-temannya. Hal ini disebabkan, beberapa anak harus bermain dalam waktu yang bersamaan.
  • Origami. Permainan yang berasal dari negara Jepang yang dapat meningkatkan kreatifitas anak dan melatih kemampuan motorik pada anak. Selain itu, anak juga belajar mengenali warna.
  • Berolahraga. Kegiatan yang dimaksud tidak seutuhnya olahraga namun sebahagian dilakukan dengan menggunakan metode permainan tradisional suku Rohingya dan Indonesia.
  • Membuat keterampilan (handycraft). Metode ini dilakukan sebagai upaya melatih koordinasi visual-motorik, daya imaginasi dan kreatifitas dari anak.
  • Berhitung dan Mengenal Huruf. Proses pendidikan yang masih pada level berhitung dan mengenal huruf ini dilakukan sebagai upaya transisi anak-anak sebelum mendapatkan pendidikan secara utuh. Proses yang dilakukan juga menggunakan berbagai metode permainan.

 

Read 864 times
Sarah Fadilla

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Sign up for newsletter