Read more of Rohingya refugees in Aceh
September 27, 2015

Membangun Harapan Baru Aneuk Rohingya di Aceh– Bag.1

Written by 

Membangun Harapan Baru Aneuk Rohingya di Aceh– Bag.1
Sebuah Upaya Psikososial Menumbuhkan Resiliensi Pada Pengungsi Anak


Pengungsi anak Rohingya ini awalnya memiliki kehidupan yang tak jauh berbeda dengan anak pada umumnya. Mereka memiliki rumah yang layak dan hidup bahagia bersama orang–tuanya, mereka ceria, suka bermain, dan memiliki akses belajar ke sekolah, meskipun dengan catatan sejumlah kebijakan pembatasan oleh pemerintah Myanmar. Tapi itu soal lain, karena permasalahan sesungguhnya adalah politik kekuasaan kelompok dewasa, yang kemudian berimbas dan memaksa anak–anak polos ini menjadi pengungsi.

Meningkatnya suhu politik di Myanmar yang memanfaatkan issue perbedaan agama antar masyarakat, akhirnya memuncak dalam kerusuhan massa Juni 2012 di negara bagian Rakhine. Kerusuhan yang kemudian berbalik menjadi pembantaian antara minoritas Muslim Rohingya dan mayoritas Budhist Rakhien ini memaksa keluarga Rohingya dan anak–anak keluar menyelamatkan diri, meninggalkan harta benda serta kenangan hidup dibelakanganya.

Sebut saja kisah Rossiah Begum, 10 Tahun, yang kini tinggal di kamp pengungsi sementara Bayeun – Aceh Timur. Terpisah dari orang tua yang masih memilih bertahan di kota kelahiran Borwar Dil, Sittwe. Kota mereka merupakan salah satu kota pelabuhan yang besar yang terletak diantara Sungai Kaladan, Myu dan Lemyo di barat Myanmar. Kota mereka merupakan kota yang mayoritas berpenduduk Budha, dan minoritas muslim dimana antara keduanya sering terjadi konflik. Kehidupan mereka di Borwar Dil berkecukupan. Keluarga mereka mempunyai rumah, 1 buah mobil dan 2 buah kereta. Rosiah sendiri juga bersekolah disana. Dia duduk di kelas 2 SD. Kedua orang tua dan 3 saudaranya masih berada di Myanmar.

Demikian pula kisah yang dialami Hussain, seorang anak tunggal laki–laki berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Kekerasan dan pembantaian yang terjadi di daerahnya memaksa ia dan kedua orangtuanya keluar mengungsi ke kawasan lain Myanmar yang dianggap lebih aman. Kesulitan hidup di lokasi kamp membuat Ayah dari Hussain mengembari mencari pekerjaan hingga ke Malaysia, sedangkan ia dan ibu bertahan tinggal di kamp. Konflik yang terus berlangsung dan pengeboman sekitar lokasi kamp benar–benar menakutkan, hingga membuat mereka akhirnya terpaksa kembali mengungsi, kali ini lebih jauh keluar negeri bersama imigran Bangladesh yang hendak menyelundup ke Malaysia. Kedua anak dan ibu ini sedemikian tergesa-gesanya menyelamatkan diri, hanya berbekal baju yang dipakai, tak lebih.

Lepas dari ketakutan di negeri asalnya tidak bermakna penderitaan pengungsi anak–anak ini berhenti begitu saja, karena kini kondisinya jauh lebih berbahaya dan menakutkan. Karena kini mereka terombang–ambing ditengah lautan luas ...

 

Keputusan Berangkat dan Trauma Perjalanan

Entah apa yang ada dibenak sang Ibu, saat meminta Rossiah dan kakaknya Nur Asiah (17 tahun) untuk berangkat mengungsi ke luar negeri, jauh dari keluarga. Apatah lagi Rosiah dan kakak sedang larut dalam belajar saat itu. Kita hanya bisa menduga pergumulan bathin seperti apa yang dialami sang Ibu di malam yang mengharukan itu, saat menjelaskan kenapa mereka harus pergi, dan menutup dengan janji akan ikut menyusul dalam rombongan berikutnya.

Dan kakak beradik ini kemudian berada di dalam kapal selama 4 bulan dengan kondisi yang sangat tidak menyenangkan, dikarenakan kondisi kapal yang berdesakan dan makanan yang tidak mencukupi bagi setiap penumpang. Selama 3 bulan pertama, anak–anak mendapat jatah makan 3 kali sehari, sedang orang dewasa hanya mendapat makan sekali/hari. Kondisi terus memburuk pada bulan ke–4, dimana anak–anak hanya mendapat makan 1 kali sehari, sementara orang dewasa terpaksa menahan lapar hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Tak cukup didera lapar, mereka pengungsi yang terombang–ambing ini diserang dahaga yang tak tertahankan. Sebagaimana dituturkan Hussain (11 tahun), supplai air tawar sangat terbatas dan mereka terpaksa meminum air laut yang dimasak begitu saja untuk sedikit menghilangkan rasa asinnya. Tidak ada air untuk mandi, bahkan sulit untuk melaksanakan ibadah Shalat dalam kondisi berhimpitan didalam kapal. Sebagian besar pengungsi hanya berangkat dengan sepotong baju dibadan, bertahan didera panas dan hujan, karena tak banyak hal yang bisa dilakukan.

Kondisi berdesakan dan menderita pula menaikkan emosi dan kemarahan dikalangan sesama penumpang yang terdiri dari etnis Rohingya dan Bangladesh ini. Pengungsi anak–anak Rohingya dipaksa melihat pertengkaran dan perkelahian sesama orang dewasa. Sejumlah catatan menunjukkan, keributan sesama pengungsi ini seringkali disudahi dengan menceburkan lawan ke laut maupun pembunuhan.

Dan tiba dilokasi baru, tidak bermakna masalah telah usai bagi anak–anak ini. Karena kini mereka menghadapi lingkungan baru yang benar–benar asing bagi mereka, sebagian besar bahkan tanpa kehadiran orang tua maupun keluarga sebagai pembimbing dan pendamping.

 

Pendekatan Psikososial CMC

Secara mendasar, kita mengenali 3 jalur sumber stress dan trauma pada pengungsi anak Rohingya; tekanan hidup dilokasi asal, kondisi perjalanan yang teramat buruk, serta ketidakpastian hidup dilokasi baru. Menyikapi realitas ini, CMC melakukan intervensi program psikososial dengan pendekatan holistik, yang terdiri dari 4 tahapan : Screening, Trauma Healing dan Treatment (Pemulihan), Development dan Supporting, dan terakhir adalah Elimination Program.

Tahapan screening dilakukan dengan 3 level screening. Screening pertama bertujuan untuk melihat kondisi psikologis dari para pengungsi, screening kedua dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi gangguan-gangguan psikologis yang muncul dan dialami oleh para pengungsi, serta screening ketiga berkaitan dengan potensi dan kemampuan kognitif para pengungsi untuk dapat menyesuaikan diri dengan Trauma Healing dan Treatment yang akan diberikan.

Tahapan kedua berupa Trauma Healing dan Treatment diberikan dengan berlandaskan pada 6 aspek holistik yaitu fisik, emosi, intelektual, spiritual, sosial dan kreatifitas. Proses pemulihan dibagi dalam 2 jenis penanganan, yaitu secara individual dan berkelompok. Penanganan individual diberikan dalam bentuk counseling dan psychotheraphy, sedangkan penanganan untuk kelompok pengungsi dilakukan melalui media edugames, outbond, theatrical, handycraft, dan pelatihan positif katarsis dan resiliensi.

Tahapan kedua intervensi pula dilakukan bersamaan dengan tahapan ketiga intervensi yaitu Development and Supporting berupa pembentukan Safe Play Area bagi anak. Program ini juga diperkuat dengan pembentukan Child Protection System, Hotline Service dalam penanganan kasus–kasus pelanggaran hak anak. Sedangkan bagi para pengungsi perempuan, berupa pengembangan hasil-hasil karya kerajinan tangan, pengasuhan anak tanpa kekerasan, serta membentuk Family Support Group di kalangan pengungsi perempuan dengan tujuan saling menguatkan satu sama lain.

Untuk tahapan terakhir intervensi berupa proses elimination program dengan berbagai harapan capaian. Pada tahap akhir ini, para pengungsi diharapkan bukan saja pulih dari trauma, tapi juga berhasil merubah perilaku ke arah yang lebih positif. Elimination Program akan dilakukan ketika para pengungsi menunjukan beberapa perubahan perilaku seperti hilangnya symtomp trauma yang dialami, menurunnya tindak kekerasan, meningkatnya internal locus control pengungsi, meningkatnya need achievement para pengungsi sehingga lebih termotivasi dan optimis akan masa depannya, serta berhasil menunjukan ekspresinya tanpa tekanan.

 

Screening Awal Kondisi Psikis Anak Pengungsi

Secara umum, screening analisa kondisi psikologis pengungsi anak Rohingya di Aceh ini dilakukan dengan 3 metode yaitu observasi, analisa grafis dan analisa micro ekspresi kepada beberapa pengungsi anak di kamp Bayeun – Aceh Timur. Dari hasil screening diperoleh beberapa kesimpulan terkait kondisi psikologis pengungsi anak yang perlu mendapat perhatian sebagai berikut :

Perkembangan Fisik | Anak-anak tampak memiliki keterbatasan dan kurangnya stimulasi yang melatih motorik halus (Fine Motoric Skill) mereka. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak adanya stimulasi karena keterbatasan pendidikan, baik yang diberikan oleh orangtua sendiri ataupun dari pendidikan sekolah.

Sejauh ini perkembangan motoric halus pada anak masih pada batas koordinasi yang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa sejauh ini tidak terlihat anak-anak yang mengalami gangguan pada syaraf, otak dan otot yang menyebabkan gangguan pada perkembangan motoric halusnya.

Sementara itu, perkembangan motorik kasar (Gross Motoric Skill) berkembang sesuai dengan usianya. Oleh karena itu, anak masih membutuhkan stimulus ekstra untuk dapat melatih Fine Motoric Skill berkembang lebih baik sesuai dengan tahapan usianya.

Perkembangan Emosi | Kondisi emosi pada anak tampak cenderung kosong dan hampa. Kebutuhan anak akan rasa sayang dan dicintai, rasa aman, rasa dihargai tampak sangat tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh situasi dan kondisi yang membatasi anak-anak untuk memperoleh perasaan tersebut. Kondisi ini semakin memperparah kondisi emosi anak disebabkan oleh situasi traumatis yang dilewati olehnya baik pada saat berada di negara asal, selama di perjalanan, hingga kehidupan keseharian selama di pengungsian.

Melalui tes psikologis yang diberikan tampak jelas bahwa penyebab perasaan traumatis yang dialami anak adalah manusia atau kelompok dewasa lain. Anak-anak memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, insecure dan kesulitan dalam mengontrol dorongan internal dirinya (Id). Hal ini menjadi salah satu penyebab anak terkesan bersikap lebih agresif. Anak-anak tampak sulit mengontrol emosi terutama saat-saat mengalami situasi yang terancam. Tidak heran anak akan bersikap seakan sepuas-puasnya memukul untuk meluapkan emosi kemarahan, kesedihan dan tekanan yang tersimpan.

Meskipun demikian, sebahagiaan anak tampak menunjukkan harapan akan perubahan kehidupan lebih baik. Lebih kooperatif dalam mengekspresikan emosi baik kebahagian maupun emosi kemarahan dan kesedihan yang dimilikinya.

Perkembangan Sosial | Dari tes psikologi yang diberikan pada beberapa anak, menunjukan hubungan kelekatan antara anak dan orangtua (ibu dan ayah) yang tidak terbangun dengan baik. Ada perasaan ketidakberdayaan yang dirasakan oleh sebahagian anak. Hal ini menyebabkan konsep diri yang negatif sehingga tampak dari perilaku yang menunjukan rasa percaya diri yang rendah, serta perilaku agresi yang semakin terpacu sebagai akibat dari peniruan perilaku dari lingkungan sekitar.

Selain itu, anak kesulitan mengontrol kondisi emosi dan keterampilan mengungkapkan perasaan emosinya, menjadikan anak terkesan sering berkelahi dan cenderung mengekspresikan emosi marahnya secara berlebihan. Hal ini juga sebagai manifestasi dari kesulitan yang dialami oleh anak-anak dalam mengekpresikan emosinya karena tekanan yang dilakukan oleh orang dewasa.

Selain itu, ada indikasi perasaan takut terhadap para orang dewasa. Hal ini, penting untuk diperhatikan. Butuh waktu dan usaha ekstra untuk mengembalikan rasa percaya anak kepada orang dewasa.

Bersambung ke bagian kedua artikel…

Read 1136 times
Rima Shah Putra

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Program Manager
Children's Media Centre

Sign up for newsletter